• Selamat Datang

Jumat, 22 September 2017

ARTIKEL

Biofuel Untuk Penerbangan Sipil Masa Depan
Minggu, 11 Juni 2017 | 21:15:11 WIB Author Arif Nurmala

Perlahan tapi pasti, suatu industri baru yang memegang peran penting tengah mengambil bentuk, yang berpotensi untuk mengubah perekonomian global. Setelah bertahun-tahun dianggap sebagai sebuah fantasi pencinta lingkungan, produksi komersial biofuel untuk industri penerbangan sipil dunia perlahan-lahan menjadi fakta, dengan produksi dimulai serentak di tiga benua.Pada bulan Januari 2010 Qatar Airways mengungkapkan rencana untuk bekerjasama dengan Airbus untuk menyusun rencana implementasi dan rekayasa detail untuk produksi biofuel yang ekonomis dan berkelanjutan.

Pada bulan Maret 2011, di benua Eropa sebuah konsorsium Airbus, Tarom penerbangan milik negara Rumania, Honeywell UOP dan CCE (Camelina Company Espana) mengumumkan rencana untuk mendirikan sebuah pusat produksi biofuel di Rumania untuk memproduksi bahan bakar penerbangan sipil, menggunakan camelina sebagai bahan baku. Di belahan timur dunia, pada Juli 2011, China National Petroleum Corp mengumumkan bahwa mereka telah menyalurkan 15 ton minyak jarak pagar untuk membantu Air China menguji terbang pesawat bertenaga biofuel, yang dijadwalkan untuk akhir tahun ini.

Menurut posting di website-nya, CNPC, produsen minyak terbesar di Asia, ingin membuktikan bahwa CNPC memiliki kemampuan untuk memproduksi biofuel dari bahan baku non-bijih untuk membersihkan lingkungan. Pada pekan lalu, kantor berita Mozambik Agencia Informacao Mocambique mengumumkan bahwa Sun Biofuels Mozambik, sebuah anak perusahaan Sun Biofuels yang berbasis di Inggris, telah mengekspor batch pertama sebanyak 30 ton minyak jarak pagar yang dihasilkan dari ladang di provinsi Manica Mozambik untuk maskapai penerbangan Lufthansa Jerman.

Dukungan terbesar bagi pengembangan biofuel untuk penerbangan sipil terjadi pada tanggal 8 Juni 2011, ketika badan pensertifikasi standar internasional, ASTM International, menyetujui Standar Bahan Bakar BIO SPK, yang secara resmi diumumkan di akhir tahun ini, dimana memungkinkan penggunaan hydro-treated renewable jet (HRJ) bahan bakar Jet A-1 di penerbangan komersial. Saat ini biofuel ini harus dicampur dalam komposisi 50-50 dengan bahan bakar Jet A-1 hasil turunan dari kerosene. Evaluasi biaya produksi bahan bakar biojet yang digunakan tahun lalu untuk angkatan bersenjata Amerika Serikat adalah lebih dari $ 70 per galon, harga yang membuatnya sangat tidak kompetitif dengan bahan bakar fosil hidrokarbon.

Pendukung biofuel berpendapat bahwa biaya pengolahan akan menurun seiring dengan meningkatnya volume produksi. Sebagaimana digarisbawahi dalam artikel ini, saat ini adalah momentum kritis karena terdapat pembangunan serentak di tiga benua, dan ketika pemain utama seperti Airbus terlibat, maka kesinambungan usaha tidak lagi menjadi pertanyaan, tetapi tinggal menunggu waktu saja akan menguntungkan.(KO/SM - John C.K. Daly of OilPrice.com)