• Selamat Datang

Jumat, 22 September 2017

ARTIKEL

Ketika Jepang Berusaha Bangkit dari Krisis Energi
Minggu, 11 Juni 2017 | 21:16:20 WIB Author Arif Nurmala

Jepang, negara pengimpor energi terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan China, terguncang karena bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda 11 Maret 2011 lalu. Akibat gempa tersebut, sepertiga kilang dalam negeri mereka ditutup karena mengalami kerusakan.

Seperti dilaporkan Bloomberg (14/3), perusahaan minyak Jepang termasuk JX Nippon Oil & Energy Corp. and Cosmo Oil Co. mengalami gangguan pada 7 kilangnya akibat gempa, dengan potensi kehilangan produk kilang sekitar 1,6 juta barel per hari atau mencapai sepertiga dari total kapasitas kilang nasional mereka yang mencapai 4,5 juta barel per hari.

Sementara itu, penutupan jalan dan pemadaman bergilir pasca bencana gempa bumi telah menganggu transportasi, bisnis distribusi, dan produksi Bahan bakar Minyak (BBM) di Jepang. Namun, situasi telah berangsur-angsur membaik berkat langkah perusahaan minyak untuk meningkatkan frekuensi truk tangki dan kapal domestik angkutan minyak, terutama untuk wilayah yang terkena gempa.

Untuk harga produk, menurut laporan survei harga eceran mingguan yang dirilis oleh Pusat Informasi Minyak dari Institute Energy Economy Japan (IEEJ), pada tanggal 16 Maret, rata-rata harga premium di SPBU reguler rata-rata naik 3,0 JPY per liter dari pekan sebelumnya dan meningkat 2,4 JPY di wilayah Tohoku.

Saat ini Pemerintah Jepang mengklaim memiliki kapasitas BBM yang cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh negeri, dan kekurangan produk yang terlihat di beberapa daerah diharapkan secara bertahap dapat diselesaikan melalui upaya pihak terkait.

Untuk mengamankan pasokan minyaknya, Pemerintah Jepang segera memulai rekonstruksi dan meningkatkan operasi kilang di barat Jepang dengan menyediakan produk-produk minyak tambahan. Selain itu Pemerintah juga segera mengurangi jumlah hari cadangan minyak dan meningkatkan produk impor minyak bumi.

Untuk mendukung pemulihan sektor energi mereka, Pemerintah Jepang mengharapkan masyarakat untuk tetap tenang dan tidak menggunakan bensin dan produk lain secara berlebihan, dalam rangka menstabilkan supply dan demand energi. Selain itu, masyarakat juga dihimbau untuk terus menggunakan listrik dan energi lainnya secara hemat. (KO)