• Selamat Datang

Jumat, 22 September 2017

ARTIKEL

“Peluang” Batubara di Balik Gempa Jepang
Minggu, 11 Juni 2017 | 21:17:06 WIB Author Arif Nurmala

Saat ini produksi listrik Jepang terganggu dengan rusaknya beberapa PLTN, setelah gempa 9,0 Scala Richter yang melanda 11 Maret 2011 lalu. Total sebanyak 9,7 GW listrik tenaga nuklir yang diproduksi TEPCO, Tohoku-EPCO, dan Jepang Atomic Power otomatis shut-down karena gempa (Fukushima Dai-Ichi, Fukushima Daini, Onagawa dan Tokai Daini).

Pemerintah Jepang sendiri telah mengevakuasi puluhan ribu orang yang tinggal di dekat PLTN dan memperingatkan warga Jepang untuk tinggal di dalam ruangan dan menutup kulit mereka serta mulut sebagai upaya perlindungan untuk menghindari radiasi nuklir yang telah menyebar akibat meledaknya PLTN.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh International Energy Agency (IEA), pasokan listrik yang dihasilkan Jepang pada tahun 2009 terdiri dari tenaga batu bara (28%), nuklir (27%), gas (hampir seluruhnya bersumber dari LNG) 26%, minyak 9%, dan hidro 8%.

Dengan rusaknya PLTN yang menyumbang lebih dari seperempat pasokan listrik Jepang, Pemerintah harus mencari alternatif lain untuk memenuhi pasokan listriknya, salah satunya dengan menambah impor batubara. "Pasar batubara akan mendapatkan keuntungan dari kejadian yang menimpa Jepang," ungkap Robert Reilly, Peabody Senior Vice President for Business Development di Florida (15/3/2011).

Berdasarkan data IEA, Jepang merupakan importir batubara terbesar di dunia, dengan membeli campuran batubara metalurgi dan termal, sebesar 165 juta metrik ton pada tahun 2009. Sebagian besar Impor batubara Jepang berasal dari tambang batubara di Australia, yang pasokannya terbatas sejak akhir tahun lalu akibat banjir dan badai kuat yang mengakibatkan penghentian produksi dan terbatasnya operasional terminal ekspor.

Dari kacamata Indonesia, Jepang merupakan importir batubara yang cukup signifikan. Menurut data Ditjen Minerba, di tahun 2010 Jepang mengimpor batubara Indonesia sebesar 24 juta ton, atau hampir 10% dari total produksi batubara Indonesia 2010 sebesar 275 juta ton. Realisasi impor batubara Jepang sendiri pada tahun 2010 berjumlah 116,5 juta ton (Reuters, 23/02), atau dengan kata lain pada tahun 2010 saja sekitar 20% kebutuhan impor batubara Jepang dipasok dari Indonesia.

Sulit untuk dijabarkan dengan tepat berapa banyak tambahan batubara yang akan dibutuhkan untuk mengatasi krisis nuklir yang melanda Jepang. Namun, Reilly mengatakan kemungkinan kebutuhan batubara Jepang akan meningkat 5 sampai 10 juta ton. "Yang jelas, dari perspektif pasar batubara, kejadian ini merupakan hal yang positif", ujarnya. (KO/JS/Florida Platts)